Feed on
Posts
comments

dari: http://www.hidayatullah.com/index.php/kolom/worldviews/8571-qtuhanq-filsafat

Thursday, 05 February 2009 01:31

Ketuhanan dalam agama Yahudi dan Kristen, kata Newton sangat problematic. Karena itu, ia ditolak sains

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *

Pada suatu hari saya naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya seorang bule agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Dia bertanya, “Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya”?

Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama Tuhan tidak berkuasa. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.

Untuk tidak memberi jawaban panjang saya tanya dia dulu “Could you tell me what do you mean by God?” Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.

Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan sang Bule itu mungkin kulakan dari situ. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.

Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit (permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu’ dalam fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua. Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura. Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan.

Hadith Nabi idha wussida al-amru ila ghayri ahliha fantaÐir al-sa’ah,  (jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu [kehancuran] nya) terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa’ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism.

Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis.

Pemikir-pemikir yang ia juluki “para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis” seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke, itu justru melupakan realitas Yesus Kristus. Tapi Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.

Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe.

Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern.

Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.

Tapi ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton problematik karena itu ia ditolak sains. Bahkan bagi Hegel, Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.

Belakangan Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.

Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdar. Inilah masalah bagi para filosof itu.

Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik.

Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi Kant (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berfikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.

Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.

Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mind-set manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris.  Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.

Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi dikepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil. Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim.  Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban.

Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi.  Malah kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat.

Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil  alias sunt bona mixtra malis.  Wallahu alam.
Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)

“fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaani - Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Qs: 55. AR RAHMAAN (YANG MAHA PEMURAH) - ayat 13.

Begitulah sepertinya keadaan ku sekarang. Dihari sebelumnya, ada seorang yang meminta bantuan agar komputernya bisa discan terhadap virus. Aku bingung saat itu, dengan spontan dan sedikit malas aku bilang, besok saja mas. Besok pagi kira-kira jam 10.

Hari pun berganti. Kini sudah pagi hari berikutnya, aku tidur sehabis sholat shubuh. Aku nyalakan alarm HP pada pukul 09:00. Jam HPku ku setel 30 menit lebih awal. Karena itu berarti alarm akan berbunyi jam 08:30. Itu cukup untuk ku mempersiapkan waktu untuk pergi ke tempat orang tersebut untuk menscan komputernya.

Saat terbangun, aku merasa sangat malas sekali. Alarmku berbunyi lagi karena belum kumatikan. Lalu alarm ku matikan, lalu dengan rasa malas yang masih terasa, aku tidur lagi sampai waktu yang sangat siang. Aku berfikir saat itu, malas sekali meladeni orang cina. Ya, orang yang kemarin aku temui itu bekerja di sebuah bengkel motor suatu perusahaan motor terbesar di indonesia. Dalam benakku, pikiranku sudah menerawang kemana. Aku sedang banyak pikiran, bila salah-salah dalam menservis komputernya dari virus, pasti akibatnya fatal. Si cina itu pasti bilang ini itu yang membuatku susah. Pikiranku menerawang kemana-mana. Maka kuhalalkan saja perbuatanku itu yang membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa aku pergi kebengkel orang itu bekerja. Tapi apapun orangnya, itu seharusnya merupakan pembelajaran bagiku. Rasa malasku saja yang memberi alasan-alasan aneh seperti itu.

Disaat siang hari, saat ku tak bisa lagi tidur, aku merasa berdosa. Aku mulai sadar. Janji adalah amanah. Menyia-nyiakan amanah adalah khianat, dan khianat adalah dosa besar. Apa yang harus kulakukan, aku telah melakukan dosa besar. Aku telah mengkhianati janjiku sendiri. Saat itu aku mencari-cari alasan untuk menjustifikasi kesalahanku. Aku tak tahu harus bagaimana saat itu. Temanku sudah menghubungiku, saat itu dia memberitahu lewat sms bahwa orang itu sudah mencariku sejak pagi tadi. Hmmm, aku bingung sekali waktu itu, aku ini orang yang penuh persiapan. Tapi saat itu, aku benar-benar tidak punya alasan. Memang kebohongan itu akan menghasilkan kebohongan lainnya. Tapi alhamdulillah aku tidak berbohong saat itu. Aku sangat bersyukur karena tidak mempunyai alasan apa-apa. Karena itulah aku tidak berbohong.

Setelah sholat dzuhur, aku lalu membaca-baca tabloid islam untuk mengusir kegundahanku. Saat kubaca memang hilang perasaanku pada “dosaku”, tapi saat selesai membaca, terbayang lagi, apa yang akan terjadi padaku nanti. Aku pasti dicap tidak amanah oleh orang itu. Reputasiku hancur karena tidak akan dipercaya lagi. Dan berbagai macam alasan-alasan yang lain selain dosa yang terus menghantuiku.

Aku bersiap untuk pergi ke tempat kerja, terbayang beberapa opsi ku saat tiba disana. Bengkel itu terletak beberapa ruko dari tempatku bekerja. Apakah aku harus langsung menemui orang itu dibengkelnya, apakah aku harus menunggu di tempat kerjaku. Atau apa. Memang kalo orang punya dosa, apa saja terasa tidak enak. Tapi aku bersyukur masih punya rasa tidak enak, berarti Alloh masih memberiku amanah memiliki hati yang bisa memahami dosa sendiri. Seperti halnya kata Imam al-Ghozali dalam bukunya Ihya yang dikutip dari seorang bernama Abu Thalib al-Makki, “Tidak ada pekerjaan maksiat yang lebih jahat dari pada kebodohan (jahl), dan kebodohan terbesar adalah tidak mengenali kebodohan (al-jahlu bil jahli).”

Orang yang tidak menyadari dosanya sendiri adalah orang yang tidak memiliki ilmu. Dia langgar syariah tapi dia merasa tenang karena tidak menganggap itu suatu dosa. Dia berpikir subjektif.

Akhirnya aku tiba di tempat kerjaku, dan menunggu dia. Dia pun datang beberapa menit kemudian, lalu aku pun pergi kesana. Ternyata, tidak terjadi apa-apa. Itu lebih bersifat non formal, antara pekerja ruko dengan pekerja ruko lainnya. Bukan sebagai bos ruko meminta jasa pembersihan virus komputer. Disana aku mengobrol santai dengan dia. Dan beberapa menit kemudian aku pun memberi kesimpulan tentang apa yang terjadi dengan komputernya. Sudah itu, selesai. It’s done. Everything is going ok.

Setelah itu aku pun kembali ke tempat kerjaku dengan hati yang lapang dan tenang sekaligus malu pada Yang Maha Pencipta. Ya Allohku, aku berkhianat terhadap janjiku. Tapi engkau malah memberiku kelapangan dan kelancaran. Betapa terbayang oleh ku saat itu, Alloh Maha Penyayang. Mendahulukan Rahmatnya dibanding murkanya. “fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaani - Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, begitulah bunyi ayat QS Ar-rahman ayat 13 yang senantiasa ku ingat. Ya Alloh, sungguh malu diri ini. Dan sungguh Maha Mulia Engkau Tuhanku. Inilah yang disebut air tuba dibalas dengan air susu. Aku berkhianat, tapi malah diberi kelapangan. Walhamdulillah. Semoga kisah ini memberikan pembelajaran bagi penulis pribadi, dan juga para pembaca sekalian.

hg_

Sebuah Arti

Sebuah arti..

Rizki adalah…
Saat menerima ilmu,
Saat menerima kemudahan,
Saat mendapatkan istri sholehah,
Saat mendapatkan kesenangan,
Saat mendapatkan anak yang sholeh dan sholehah lagi sehat jiwa raganya,
Saat mendapatkan harta sedang dia membelanjakan dijalan-Nya,
saat ikhlas menerima kehendak-Nya diatas kehendakmu,
Kita bersyukur kepada-Nya.

Orang hebat adalah…
orang yang baik dan sholeh maupun sholihah, senantiasa istiqomah pada syariat-Nya,
tahan hidup bersama orang-orang yang kurang baik akhlaknya,
senantiasa menjadi cahaya bagi sekitarnya,
dapat merubah mereka kearah yang lebih baik,
penyejuk iman mereka, tempat bertanya tentang kehidupan,
bisa menasihati lingkungannya, benar kata-katanya,
baik tutur katanya, mudah diterima pendapatnya,
bijaksana lagi diterima.

Cinta adalah…
cinta kepada-Nya,
berbagai cobaan takkan pernah merubah cintanya pada-Nya,
saat baik dan buruk, dia slalu mengingat-Nya,
berbaik sangka kepada-Nya, dan tidak mendzolimi-Nya
cinta itu tak mendzolimi, bersih dan sesuai syariat-Nya,
cinta sejati, berorientasi ridho ilahi,
Tenang, damai, meneguk cinta-Nya,
Ikhlas, ridho, dan senantiasa mengingat-Nya,
meninggalkan cintanya untuk cinta kepada-Nya,
karena dia tahu, Dia lebih tahu daripadanya.

Do’a adalah…
pupuk sebuah tanaman,
mempercepat pertumbuhan bibitnya,
menyehatkan, dan melebatkan daunnya,
membuat manis buahnya, memperindah bunganya,
menyertai usaha kerasnya, memberi berkah terhadapnya,
namun banyak manusia banyak berdo’a namun miskin usaha,
celakanya, dia menggugat tuhan-Nya saat gagal menimpanya,
saat susah menari-nari didekatnya, saat sempit mempersempitnya
dasar manusia bodoh,
dia malah sibuk menyingkirkan lalat dihidungnya,
padahal binatang buas siap menerkamnya,
yaitu akhirat dan neraka-Nya.

Ilmu adalah…
terbagi menjadi dua,
ilmu tentang-Nya, dan ilmu tentang dunia,
terbagi dua bagai air laut yang terbelah,
engkau berdiri diantaranya, sedang kau hanya bisa mencapai dunia,
saat kau melihat ilmu-Nya, engkau takkan bisa,
kau akan tenggelam bagai fir’aun dan tentaranya,
kau akan tersungkur sejenak bagai Musa saat Dia menceritakan diri-Nya,
kau akan hancur, bagaikan gunung yang menampilkan sedikit keindahann-Nya pada israil,
berpeganglah pada Al-Quran, sesungguhnya Al-Quran itu sebenar-benarnya petunjuk-Nya,
suci, bersih, asli, dan dilindungi-Nya, sampai akhir zaman,
Al-Quran itu akan menolongmu bila kau membacanya,
jadikanlah Al-Quran sebagai ilmu dan sahabat karibmu didunia.

Dunia adalah…
Bangkai busuk yang menggoda,
wanita tua kusta terbalut kain sutra, sedang kebanyakan manusia mempertahankannya,
istri tua masam rupanya, berkhianat, hina, harus kita cerikan segera,
tempat persinggahan, ladang amal, penuh comberan.

Akhirat adalah…
Istri muda, shalihah, harum, indah, abadi, yang harus dipertahankan,
namun kebanyakan manusia lalai terhadapnya,
tempat kembali kita, tempat bertemu dengan-Nya,
tempat memadu kasih dengan-Nya, saat bekal baik terbawa,
tak ada kekecewaan, tak ada kata sia-sia,
tanamlah pohon-pohon baik didunia, lalu bawalah bekal itu untuk ke syurga,
sesungguhnya disyurga itu tempat yang paling baik,
Engkau ridho kepada-Nya dan Dia pun ridho kepadamu,
maka carilah ilmu tentangnya, BANGUNLAH!!! pelajarilah Dia,
bertanyalah saat kau ragu, belajarlah saat kau tak tahu,
carilah guru yang mana saja kau suka, dari kalangan yang meneladani shalafush shalih,
karena yang manapun kau pilih, pasti mendapat hidayah-Nya.
apakah shalafush shalih itu…
yaitu tiga generasi terbaik setelah Rasulullah SAW telah tiada,
Zaman sahabat, tabi’in, dan tabi’at tabi’in.
semoga kau mendapatkan guru itu, semoga kau mendapatkan ilmu itu,
semoga kau menemukan hidayah itu, semoga kau menemukan syurga itu.
DAN SEMOGA KAU MENDAPAT RAHMAT-NYA.
Do’aku semoga menyertaimu sahabat. Allohuma Amin.

hg_ from kampus kehidupan

Dilema Agnostik

Hg_ : sampai kapan sich lu begini terus coy?
Kyvic : maksud lo?
Hg_ : lu gak pernah sholat lagi kan? Apa lu pindah agama kaya paman lu itu?
Kyvic : hmmm… ga tau dech
Hg_ : kok gak tau? Mungkin lu bisa ngomong sama gw, mungkin gw bisa bantu loh
Kyvic : (diam)
Hg_ : gw tau dari temen-temen. Katanya lu dah ilfil (ilang filling) sama ALLOH. Bener itu? Katanya lu sering do’a sama Dia, tapi lu ngerasa gak ada perubahan. Lu ngerasa do’a2 lu gak dikabulin kan. Lu do’a buat nyokap lu supaya hidupnya gak susah lagi. Lu do’a tiap waktu tapi gak ada tanda2Nya yang mengabulkan do’a lu. Apa benar demikian?
Kyvic : gw gak tau. Yang jelas gw udah cape do’a sama ALLOH. Gak ada yang dikabulin. Gw dah do’a tiap waktu. Gw coba sekusyu-kusyuk nya, tapi tetep aja gak dikabulin. Buat apa gw do’a? Buat apa gw sholat? Buat apa gw puasa? Gak ada gunanya buat gw.
Hg_ : sempit amat sich pikiran lu vic?
Kyvic : terserah lu mau ngomong apa ge! Lu gak tau sich gimana menderitanya gw. Menderitanya nyokap gw. Gmn usaha terbaik gw buat ibadah. Semua itu gak ada gunanya buat gw! Buat apa gw ngelakuin itu semua kalo gak ada gunnanya buat gw?
Hg_ : setidaknya lu buat itu buat akhirat lu vic
Kyvic : akhirat? Do’a yang sekecil ini aja gak bisa dipercaya? Apa lagi soal akhirat? Tau apa lu so’al akhirat? Apa lu dah pernah liat? Dari mana sich lu tau akhirat? Dari kitab suci tuhan yang gak kabulin do’a gw? Do’a aja udah gw gak percaya lagi, buat apa gw percaya sama akhirat?
Hg_ : jangan sembarangan lu ngomong vic! Lu tuch gak tau apa2, lu lagi labil, lu gak sehat jalan pikirannya.
Kyvic : terserah lu mau ngomong apa ge! Yang jelas gw gak percaya lagi sama yang namanya do’a sama tektek bengeknya!
Hg_ : tapi lu masih percaya sama tuhan kan?
Kyvic : gw percaya! Tapi gw rasa gw gak perlu ibadah sama Dia. Buat apa? Toh gw gak dapet apa2. gak ada gunanya kan?
Hg_ : apa nafas yang lu hirup itu bukan pemberianNya? Apa darah yang mengalir harmonis di badan lu bukan nikmatNya? Apa yang ada didunia ini jalan gitu aja tanpa ada yang ngatur?
Kyvic : terserah lu mau ngomong apa. Lagian lu kayak gak tau agama lu aja. Disana-sinikan banyak perbedaannya. Apa lu gak merasa membingungkan dan merasa dibodohi?
Hg_ : maksud lu?
Kyvic : maksud gw. Agama Islam itu katanya Agama yang paling benar. Agama yang paling lengkap! Agama final! Tapi kok ada perbedaan disana-sini? Apa itu yang disebut benar final dll??? Lu tau mazhab? Mazhab itu kan banyak? Buat apa pake banyak2 kaya gitu? Katanya udah lengkap dan final? Harusnya kan udah ada standarisasi tentang masalah besar kecil dan semua yang menyangkut kehidupan ini? Kenapa harus ada banyak mazhab? Itu kan sama aja membingungkan. Dan yang membingungkan itu kan dekat dengan keraguan? Dan keraguan itu bukannya hasil dari ketidak-sempurnaan? Katanya agama yang sempurna? Lah kok masih ada perbedaan disana sini? Apa lu dah mikir sejau itu?
Hg_ : memang benar apa kata lu vic. Agama Islam itu memang ada istilah mazhab. Dan itu memungkinkan adanya perbedaan tata cara peribadatan. Namun dalam Islam itu ada yang harus lu ngerti sekali tentang itu vic. Islam itu agama tauhid. Yaitu mengesakan ALLOH. Dan itu adalah aqidah kita. Akidah dasar kita. Paling mendasar. Dan yang lu tanya itu, tentang mazhab itu, adalah tentang khilafiyah. Lu harus ngerti bener2. Mana yang aqidah, dan mana yang khilafiyah. Yang lu omongin tadi itu masalah khilafiyah. Bukannya masalah yang paling mendasar dalam Islam. Yaitu aqidah. Lu bisa tanya sama orang2 Islam diseluruh dunia. Siapa tuhannya? Siapa nabinya? Apa kitab sucinya? Dimana kiblatnya? Pasti mereka semua menjawab ALLOH SWT., Muhammad SAW., Al-Quran, dan Ka’bah. Mereka yang mengaku Islam pasti menjawab seperti itu. Kecuali kalo aqidah mereka sesat. Seperti ahmadiyah, lia eden, dlsb. Masalah aqidah itu tidak ada perbedaan dalam Islam. Semua pasti menjawab yang sama. Kalo masalah mazhab, itu masalah perbedaan tata cara ibadah, berdasarkan sumber2 yang mereka pahami. Dan masalah mazhab itu, perbedaan tata cara beribadah itu dibolehkan dalam Islam. Ada sebuah hadits yang kalo gak salah begini. “suatu hari Nabi Saw bertanya kepada seseorang, “hei fulan, apa yang kau lakukan saat menemui suatu masalah?” si fulan menjawab “hamba akan mencarinya di dalam Al-Quran”, nabi bertanya kembali “Bila kau tak menemukannya dalam Al-Quran?” fulan menjawab “saya akan mencarinya didalam Al-Hadist”, Nabi kembali lagi bertanya “bila pada keduanya tidak engkau temui jawabannya?” fulan pun menjawab lagi “aku akan berijtihad tentang masalah tersebut” Nabi pun berkata: “bila kau benar dalam ijtihad mu, ALLOH akan memberimu 2 pahala, bila salah, kau akan mendapat 1 pahala””. Masalah mazhab adalah masalah perbedaan cara pandang dalam memahami quran dan hadist, dan ijtihadnya para orang terdahulu saat memahami suatu perkara, termasuk perkara ibadah. Ijtihad tersebut didapat dari berbagai dalil yang mempunyai kekuatan yang berbeda pula. Maka dari itu juga, ada tingkat kekuatan dalam hadist. Apakah shahih, daif, atau palsu. Jadi masalah perbedaan itu memang tidak dilarang, asal yang terpenting aqidahnya yang benar. Yaitu kesaksian tiada tuhan selain ALLOH, dan Muhammad adalah rasul ALLOH. Dengan bersaksinya lu, berarti lu harus tunduk dalam syariatnya. Dan salah satu syariatnya adalah sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya. Kini lu ngga sholat, gak puasa, dan ibadah lainnya. Gw malah jadi bertanya, apa lu ngerti akan kelakuan lu ini? Lu bicara ini itu, tapi lu sendiri cuman tau dari pikiran lu sendiri. Sedang pikiran lu didapat dari ilmu yang lu dapet. Selama ini ilmu yang lu dapet dari mana sich? Apa lu suka nongkrong dipengajian? Di masjid? Apa yang sering lu baca? Lu baca komik, baca buku2 orientalis, sedang lu gak sadar siapa itu orientalis? Mereka itu adalah musuh2 yang memusuhi Islam! Sedang lu baca buku2 mereka. Pikiran lu sama kaya pikiran mereka. Sekarang lu maki-maki Tuhan cuman gara2 do’a lu gak dikabulin. Parah amat sich lu?
Kyvic : hebat bener lu nyanyi2 dari tadi(mulai terasa panas). Tapi apa lu ngerti juga maksud dari omongan lu tadi? Lu gak kawatir kalo lu salah? Islam agama yang benar? Hah bullshit! Tau dari mana lu soal kebenaran? Dari ajaran Islam? Islam kan ajarannya udah dari 14 abad yang lalu? Kenapa juga lu harus percaya? Apakah waktu selama itu gak ada proses pelunturan akidah, pelunturan ajaran? Selama 14 abad itu apakah gak ada yang merubah-rubah ajaran Islam? Apakah gak ada perang jadi quran dan hadist tidak dibakar dan tidak dimusnahkan? Atau kah ada perang? Apakah dalam perang itu kitab2 tersebut tidak dibakar atau di ubah isinya menjadi lain dari aslinya? 14 abad men!!! 1400 tahun!!! Waktu yang lama buat sebuah kitab untuk bertahan! Bertahan dari tangan2 jail manusia. Lu yakin waktu selama itu ngga ada yang namanya sabotase quran dan hadist? Gak ada pengubahan isi kitab2 tersebut?
Hg_ : gw percaya Al-Quran masih asli sampai akhir zaman!
Kyvic : kebodohan macam apa itu? Mana logika lu ge?
Hg_ : logikanya ada pada Al-Quran itu sendiri. Al-Quran itu kan kitab ALLOH! ALLOH yang menurunkan kitab tersebut. Didalam kitabnya tersebut ALLOH menulis kalo gak salah, “Aku sendiri yang akan menjaga kitab Al-Quran sampai akhir zaman”.
Kyvic : (tertawa) hahaha… lu ini, mana mungkin hal itu bisa jadi logika lu. Bisa saja kan ayat tersebut hanya dibuat2 oleh orang2 iseng. Dalil lu itu gak ngebuktiin apa2 bro. Gw kan dah bilang tadi. Selama 14 abad itu apa gak ada yang namanya perubahan dalam Al-Quran? Lu kaya gak tau manusia aja? Sedikit banyak pastilah ada perubahan. Dan bisa jadi juga besar kemungkinan ayat yang lu omong tadi cuman bullshit semata. Cuman omongan orang2 jail belaka. Lantas kalo udah begitu? Apa yang harus gw percaya? Apa lagi yang harus gw percaya? Al-Hadist? Itukan derajatnya setingkat dibawah Al-Quran! Sedang Al-Quran sendiri meragukan kebenarannya. Mana yang disebut agama benar itu? Kitab sucinya saja meragukan kebenarannya. Apa yang harus gw percaya lagi? Gak ada? Apa kalo semua yang meragukan itu tetap dipertahankan, bukan disebut kebodohan yang dilestarikan?
Hg_ : wah bro. Kalo begitu lu menghina seluruh dunia pemeluk agama Islam. Lu sama saja mengklaim semua orang itu bodoh
Kyvic : mungkin juga begitu. Bukan gw yang ngomong loh. Lu itu mah!
Hg_ : yang dari penjelasan lu tadi lu secara sengaja or gak udah mengarah pada penghinaan macam itu. Begini coy. Semua umat Islam yang ada didunia mempercayai bahwa Al-Quran itu masih asli dan dijamin keasliannya oleh ALLOH tuhan semesta alam. Nah, yang ngomong itu tuch bukannya sederatan orang bodoh yang semuanya gak mengenyam pendidikan. Semuanya ada yang mengenyam pendidikan berpuluh-puluh tahun. Sampai ada yang bergelar master, doktor, dan professor. Lu ini siapa sich? S1 aja belum lulus. Jurusannya bukan teologi atau semacamnya lagi. Malah jurusan komputer. Gak nyambung. Sekarang lu ngomongin soal keaslian kitab suci. Apa itu namanya bukan kredibilitasnya diragukan? Apa itu bukan namanya memaksakan kapasitas lu sendiri? Orang-orang yang berpendidikan itu wajar mereka bicara seperti itu. Tentang keaslian kitab suci Al-Quran. Karena mereka udah meneliti berbagai literatur dan nash atau sumber yang banyak. Makanya mereka layak berbicara tentang keaslian Al-Quran, dan omongan mereka berdasarkan bukti yang bisa dipertanggung-jawabkan. Kredibilitasnya pun bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi kalo sudah yang bergelar professor. Tentunya mereka sudah mengikuti sederetan tes yang telah dilakukan diperguruan tinggi. Dari mulai sarjana, master, doktor, sampai professor. Sedangkan lu? Lu ini siapa sich?
Kyvic : (tertawa lagi) hahaha… omongan lu ge… indah nian. Begitu intelek. Tapi gw ga tau juga. Lu juga masih ngerti gak sama omongan lu? Gw juga ngomongin ini bukan semata2 gw ngelantur. Gw juga baca ge dari yang kata lu mah “professor” segala macemnya. Mereka itu kan banyak mengeluarkan buku2 yang isinya meragukan kitab Al-Quran. Mereka itu memang bukan anak kuliahan jurusan komputer kaya gw! Mereka itu kredibilitasnya gak diragukan. Mereka itu bergelar professor dengan bidang ilmu yang sehaluan sama apa yang mereka omongin dibuku. Mereka itu professor diberbagai bidang termasuk theologi atau ilmu perbandingan agama. Mereka itu juga ada yang sampe professor ge. Yang ngelewatin serangkaian ujian dari S1 sampe professor. Apa kredibilitas mereka diragukan? Wajar dong kalo mereka bicara soal sejarah dan keaslian Al-Quran yang meragukan. Toh mereka juga menulis dengan serangkaian penelitian dan bukti2 yang berjubel. Nah kalo sudah begini? Gimana? Lu mau ngomong apa?
Hg_ : (tertawa juga) hahahah… lu ini pake atuh logika sedikit aja. Jangan cuman pake perasaan benci lantaran do’a2 lu gak dikabulin! Abis itu, lu membabi buta menghina apa yang sebenernya lu belum tau kejelasannya. Lu sebenernya tuch, dengan segala kekesalan dan kebencian lu, lu mencari pembenaran atas kekecewaan lu sendiri. Lu cari dalil2 yang lu anggap bisa mendukung kebencian lu. Dan lu menemukannya pada buku2 “professor junub” itu. Mereka itu, ya terang aja mereka menghina habis-habisan tentang Islam dan segala yang berhubungan dengan Islam. Mereka itu kan membenci Islam. Apalagi mereka juga membenci agama mereka sendiri karena ketidakpuasan dan hal-hal yang tidak sempurna pada agama mereka. Lah wong agamanya aja udah dirusak. Terus diapun ikut rusak. Kini dia pun percaya gak ada kebenaran mutlak dibumi ini. Termasuk saat mereka melirik Al-Quran. Dengan logika kebencian yang ada pada mereka. Yang menganggap kebenaran mutlak itu tidak ada, maka mulailah mereka menyerang Islam dari berbagai aspek. Dari perang sampai intelektual. Contoh serangan intelektual ini, ya itu tadi. Buku yang lu jadikan dalil tadi. Lagian lu mah. Baca buku gak dipikirin dulu. Lu aja ragu sama kitab suci, seharusnya keraguan lu juga ada pada buku yang lu baca itu! Gw yakin lu membaca buku itu tanpa adanya compare atau membandingkan dengan buku2 sejenis yang beda haluan, contohnya buku2 yang berhaluan Islam. Setiap permasalahan kan pasti ada yang pro dan yang kontra. Dan yang lu baca itu hanya mendukung kebencian lu pada sesuatu yang lu memang benci. Dalam hal ini lu benci dengan ketentuan ALLOH, lalu lu juga benci semua yang berhubungan dengan segala hal menyangkut ajaranNya. Lantas dimana logika lu tadi? Logika lu tuch hanya sebatas mencari data pada buku2 yang belum lu kompare kebasahannya. Nah dengan sendirinya logika lu tadi gak bisa dipertanggungjawabkan. Mana mungkin lu mengiyakan suatu pendapat dan mendukung sepenuhnya pendapat tersebut sedang lu gak melakukan perbandingan tentang pendapat tersebut???
Kyvic : (diam)…
Kyvic : lu percaya adanya tuhan ge?
Hg_ : ya percaya lah. Gw kan muslim. Aku bersaksi tiada tuhan selain ALLOH, dan Muhammad adalah utusan ALLOH.
Kyvic : lu tuch bener2 gak ngerti maksud gw ge. Semua yang lu ketahuin itu kan dari orang-orang yang belajar Al-Quran. Sedang Al-Quran itu sendiri meragukan keabsahannya. Karena sudah 14 abad! Mana mungkin selama itu gak ada perubahan? Dimana logikanya ge???
Hg_ : lu makin kayak orang liberal aja lu. Terlalu bertumpu pada akal. Akal lu itu lemah. Gak akan sampe pada ilmu ALLOH.
Kyvic : lalu gw harus gimana? Kata lu jangan pake perasaan benci dulu. Sedang lu juga ngelarang gw pake akal. Gimana lu ini!
Hg_ : gw bilang kan pake akalnya jangan terlalu mendominasi.
Kyvic : terserah lu dech.
Hg_ : lu bingungkan!
Kyvic : ya iyalah gw bingung. Gw gak boleh pake logika. Perasaan apa lagi! Tambah gak boleh!
Hg_ : maksud gw. Lu sendiri bingung kan sama pemikiran lu yang ilfil sama ALLOH. Gak beribadah kepadaNYA, mengacuhkanNYA. Lu bingung sendiri kan bahwa apa yang lu lakuin ini. Benar atau salah. Iya kan.
Kyvic : lu gak ngerti maksud gw ge. Yang gw punya sekarangkan akal buat berpikir. Buat ngebedain mana yang benar mana yang ngga. Dan tadi gw bilang, kitab Al-Quran yang selama ini orang2 baca dan lu pun pengikutinya, gak masuk akal aja sama akal gw. Mana mungkin 14 abad itu gak ada perubahan. Mana logikanya. Sekarang lu malah nyuruh gw gak boleh pake akal terlalu berlebihan. Bukannya itu juga gak masuk akal.
Hg_ : okelah kalo lu mau pake logika. Tapi sekali lagi coy. Bukan gw ngelarang lu pake akal. Tapi gw saranin lu gak pake akal yang berlebihan. Lu mungkin belum tau komunitas Islam yang benar2 mengandalkan akal dan menjauhi segala macam yang datangnya dari wahyu. Mereka itu pemikir2 liberal yang bercap Islam. Tapi malah menyerang Islam. Sadar atau tidak, mereka menentang Islam. Itu karena mereka terlampau menggunakan akal dibanding memperhatikan wahyu. Segala macam yang tidak mereka mengerti pada wahyu, mereka meninggalkannya karena akal. Sedang imam Al-Qozali berkata “Akal itu adalah sebuah mata, sedangkan wahyu adalah mataharinya. Semua harus digunakan berimbang. Bila hanya akal yang digunakan, sama saja dia berjalan dikegelapan.” Meraba-raba tanpa kejelasan. Sekarang mereka merusak semua yang berhubungan dengan ajaran Islam yang mereka tidak terima dalil2 dalam Islam yang tidak masuk dalam akal mereka.
Kyvic : aaah. Langsung aja kepokok permasalahannya!
Hg_ : begini coy. Waktu 14 belas abad itu menurut logika lu memang agak gak masuk akal. Tapi ada logika pendukungnya coy. Lu tau gak, bahwa Nabi SAW dahulu menyuruh kita apa menyangkut Al-Quran? Beliau menyuruh kita untuk menghafalnya. Saat itu para shababat menghafalnya. Ada yang menghafalnya dikepala, ada yang menuliskannya di kulit binatang, batu dan lain sebagainya. Mereka menghafalnya. Lu tau kenapa salah satu sebab Islam diturunkan di arab? Karena salah satunya, orang arab itu memang hebat hafalannya. Selain hafal Al-quran, mereka juga hafal apa yang disabdakan Rasul SAW dan pada akhirnya menjadikannya sebagai hadist. Sebuah sunnah rasul. Tulis menulis sebenernya gak terlalu penting buat mereka. Lah wong bisa mudah di ingat di kepala ngapain juga pake ditulis. Nah, kembali kepada hafalan Al-Quran. Al-Quran dulu dihafal oleh para sahabat dan masyarakat di zaman nabi. Dan pada perkembangannya. Orang2 Islam diarab tersebut berpencar keseluruh dunia untuk berdagang, siar agama, dan ada juga yang menetap. Sampai sekarang mereka menetap. Dan karena menghafal Al-Quran itu dulu adalah perintah nabi, maka mereka pun menyuruh anak cucu mereka untuk menghafalkan Al-Quran. Turun temurun sampai sekarang. Nah sekarang lu bisa tanya sama orang2 Islam diseluruh dunia yang udah hafal Al-Quran. Kalo perlu, lu kumpulin mereka dari berbagai negara dan bahasa. Trus lu cek hafalan mereka. Apakah sama atau ada yang berbeda. Pasti semuanya sama! Dan itu adalah logika yang masuk akal! Masuk akal bukan?! Kecuali lu masih benci bilang benar dan lebih suka mencari justifikasi kebobrokan Al-Quran dari orang-orang junub pembenci Al-Quran itu.
Kyvic : (diam)…
Hg_ : maka dari itu vic. Lu tuch jangan berpikir sempit. Kenapa gw bilang lu berpikir sempit. Yaa karena memvonis sesuatu yang sebenarnya lu belum usahakan kebenarannya.
Kyvic : aaaah gw pusing. Udah lah ge. Lu urus urusan lu sendiri. Gak usah lu perduliin gw.
Hg_ : gw ini temen lu coy. Apa lu gak ngerasa lu temen gw! Gw liat ada kesalahan dalam diri lu dan gw coba untuk memperbaiki nya sekemampuan gw.
Kyvic : lu bilang gw agnostik? Apa gw jadi atheis aja sekalian?! Kayanya ide bagus tuch
Hg_ : lah, itu lebih parah atuh. Kemana sich pikiran lu. Apa penjelasan gw belum jelas?
Kyvic : gak tau juga. Gw lagi gak bisa mikir coy! Kenapa sich lu percaya tuhan itu ada?
Hg_ : ya iyalah. Gw kan muslim. Percaya ALLOH, Muhammad, dan Al-Quran!
Kyvic : tapi kenapa ALLOH itu begitu misteriusnya sampe beda sama tuhan2 agama lain? Agama2 lain mah sampe ada patung lukisan dan segala macemnya. Mengapa agama Islam tidak? Bukankah sama saja kita menyembah yang tidak ada?
Hg_ : “Sami’na watho’na bos. Aku mendengar. Dan aku taat.” Islam yang melarang adanya lukisan dan patung2 sebagai sesembahan.
Kyvic : lantas apa yang kau sembah? Ow gw tau. Lu menyembah ke arah Ka’abah kan. Ka’bah itu kan hanya sebuah kotak besar berisi batu. Jadi lu menyembah batu? Lantas lu tadi bilang tidak menyembah berhala? Bagaimana mungkin? Kau ini menyembah batu tapi tidak mau disebut menyembah berhala?
Hg_ : hahaha… kita menyembah kearah ka’abah bukan berarti kita menyembah ka’bah atau batu yang ada didalamnya. Itu semua semata-mata hanya arah untuk beribadah kepada ALLOH. Dia yang menyuruh orang2 muslim. Maka kami pun taat. Itu lah coy. Jangan kau samakan logika dengan wahyu. Kadang wahyu itu belum kita mengerti sedangkan akal kita ini berbatas. Sebanyak-banyaknya lu berpikir tentang TUHAN, lu akan selalu terbelenggu dengan batasan penilaian yang lu punya. Penilaian2 dan standar2 penilaian lu itu berbatas pada logika lu sendiri. Ilmu ALLOH itu begitu luas sedang akal lu begitu kecil saat lu coba menjangkaunya. Sudahlah, saran gw lu mulai nongkrong di pengajian. Coba pahami apa yang ada didalamnya. Cobalah beribadah, sholat, mengaji, dll walaupun itu sulit. Karena bila kita bertobat, insyaALLOH ALLOH akan mengampuni dosa-dosa kita. Sebaik-baik manusia bukanlah orang yang suci dari dosa, tetapi saat dia berbuat salah, dia buru-buru menyesal dan bertaubat. ALLOH itu maha membolak-balikan hati manusia. Dengan ibadah, diharapkan Dia sudi buat mengistiqomahan hati lu. Bila sudah istiqomah, maka akan ada kemudahan, ketenangan dan ilmu yang bakal lu dapet yang gak sembarang orang bisa dapet.
Kyvic : hmmm… taulah ge. Kayaknya gw butuh waktu. Gak bisalah gw memutuskan gitu aja apa yang udah gw pikirin. Kalo begitu gw cabut dulu. Thanks udah sudi ngasih gw waktu ngobrol. Selamat sore!
Hg_ : Hayah selamat sore!!! Ati2 dijalan!

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Dari 1001 KISAH TELADAN

FILE CREATED BY HEKSA - heksa@bigfoot.com

NABI SAW BERGURAU

Namanya adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu’man Al-Habasyiyah

Pendeknya adalah Ummu Aiman. Beliau senantiasa mengasuh Rasulullah hingga dewasa. Saat Beliau SAW menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, beliau memerdekakan Ummu Aiman yang kemudian dinikahi oleh Ubaidullah bin Haris Al-Khazraji, darinyalah ia melahirkan Aiman yang pada gilirannya Aiman ikut berhijrah dan berjihad bahkan syahid tatkala perang Hunain.

Nabi SAW memuliakan Ummu Aiman, beliau sering mengunjunginya dan memanggilnya dengan kata “Wahai ibu…” Beliau bersabda:

“Beliau (Ummu Aiman) adalah termasuk ahli baitku.” Beliau juga bersabda: “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.”

(diriwayatkan oleh Al-Hakim IV/63 dan Al-Asqalani dalam al-Ishbah VIII/213 serta Ibn Sa’ad dalam Ath-Thabaqatul Kubra VII/223

Rasulullah SAW bersikap lemah lembut kepadanya dan terkadang mengajaknya bercanda karena ia seperti ibunya sendiri. Telah diriwayatkan bahwa suatu ketka ia berkata kepada Rasulullah SAW,

“Wahai Rasulullah bawalah (ajaklah) aku.” Maka Nabi SAW berkata: “Aku akan membawamu di atas anak onta.” Ummu Aiman berkata: Anak onta tidak akan mampu membawaku, lagi pula aku tidak menyukainya.” Nabi bersabda: “Aku tidak akan memabawamu kecuali dengan anak onta.” Ini adalah canda Rasulullah SAW kepada Ummu Aiman, hanya saja sekalipun beliau bercanda namun tidak mengatakan kecuali yang benar, sebab setiap unta seluruhnya adalah anak unta.

***

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW,” Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu”. “Semoga suamimu yang dalam matanya putih”, kata Rasulullah SAW.

Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, “kenapa kamu ini?”.

“Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih”, kata istrinya menerangkan. “Bukankah semua mata ada warna putih?” kata suaminya.

***

Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,

“Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga”. “Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua”.

Perempuan itu lalu menangis.

Rasulullah menjelaskan, “tidakkah kamu membaca firman Allah ini,

“Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya”.

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na’im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

***

‘Aisyah berkata: “Saya keluar bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Ketika itu saya masih sangat muda sehingga belum punya beban tubuh yang berat. Beliau bersabda kepada para sahabat, “Duluanlah kalian!” Maka merekapun mendahului kami. Kemudian beliau bersabda kepadaku, “Marilah kita berlomba lari dan saya akan berusaha mengalahkanmu. Maka kami berlomba lari dan saya dapat memenangkan beliau. Setelah berselang waktu dan tubuhku menjadi gemuk dan aku teleh lupa peristiwa itu, saya melakukan perjalanan bersama beliau. Maka beliau bersabda kepada para sahabat, “Duluanlah kalian”. Maka merekapun mendahului kami. Beliau bersabda: “Mari kita berlomba dan aku akan mengalahkanmu.” Waktu itu saya sudah lupa dengan peristiwa serupa di masa yang lampau, sementara saya sudah berbadan gemuk. Saya berkata: “Bagaimana aku bisa mengalahkanmu ya Rasulullah, badan saya seperti ini?” Beliau bersabda: “Ayolah!” Maka kami berlomba dan beliau memenangkannya sehingga beliau tertawa dan bersabda: “Ini pembalasan terhadap kekalahanku di masa lalu”

Demikianlah cara Rasulullah SAW bergurau. Bergurau tanpa berbohong. Berbeda dengan kita bukan? Saat kita bergurau, kita berandai-andai, kita berbohong dan pada akhirnya kita bilang, “Itu cuman bercanda”. Kebohongan yang kecil memang, tapi diri ini terbiasa dengan kebohongan.

Semoga kita berangsur-angsur dapat melindungi diri dari kebohongan sekecil apapun.

Referensi:

- Wanita-wanita Teladan Di Masa Rasulullah SAW. Oleh Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi. Penerbit Pustaka At-Tibyan

- 1001 KISAH TELADAN. BY HEKSA - heksa@bigfoot.com

Kisah Pohon Apel

Pohon_apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran
di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan
pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih.
“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak
lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan
rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan
pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak
lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.

“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab
anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata
pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik
untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan
apa yang bisa mereka berikan
untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar
pada pohon itu,
tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.

Dan,  yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

sumber : googlegroups/myquran/….

MUHASABAH

 

Si Alif sedang berada dalam puncak keputus-asaannya. Bagaimana tidak, dia dituntut untuk menafkahi dirinya sendiri. Dia memang orang yang kuat. Empat semester lebih uang kuliahnya sudah dibayarkan dengan keringatnya sendiri. Pantang meminta pada orang tua, kakak-kakaknya ataupun teman-temannya secara cuma-cuma. Paling tidak dia akan meminta dalam bentuk pinjaman kepada mereka. Namun itu jarang ia lakukan, karena dia senantiasa menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya untuk ditabung. Dia juga adalah orang yang taat beragama. Senantiasa berusaha menjauhi apa yang Alloh larang. Dan senantiasa berusaha melakukan apa yang Tuhannya sukai. Hari-harinya pun berlalu tanpa menghadapi masalah yang besar, karena alhamdulillah, dia senantiasa lulus ujian kehidupan yang Tuhannya berikan. Tetapi kini, semua itu Alif rasa kian rumit dan semakin sulit.

Alif kini tidak bekerja lagi, apa yang dia rencanakan tak kian terwujud. Apa yang diusahakannya kian jauh dari sukses. Tabungannya kian hari kian menipis. Dan pada akhirnya, tabungannya pun habis ditelan kebutuhan hidup yang kian menghimpit. Uangnya habis sekarang. Baik simpanan maupun tabungan. Sementara kuliahnya sudah memasuki masa peralihan. Dari semester yang satu ke semester yang lain. Dia butuh uang itu, kalo tidak dapat, akan ada sanksi dari kampus. Entah dikeluarkan, entah tidak boleh UAS, entah tidak boleh seminar, dan lain sebagainya. Sebelumnya, semesester yang dulu pun ia mengalami krisis finansial. Ia terpaksa harus meminjam uang sana sini untuk menyelamatkan kuliahnya. Pekerjaan belum ada, tapi uang kuliah semakin mendesak harus dibayar. Alif benar-benar sedang terdesak.

Alif mulai mengadakan evaluasi diri. Apa yang salah dalam diri ini? Begitu yang ia ucap dalam hati. Dia teringat akan kata-katanya, untuk seorang teman yang sedang dalam ujian hidup. Seorang teman itu nekat menjadi agnostik. Dia sudah ilfil dengan Tuhan. Dia mempercayai keberadaan Tuhan, tapi dia tidak menyembahnya. Dia kafir terhadap semua agama. Saat itu, ingin rasanya Alif berdiskusi dengan temannya itu. Bicara begini dan begitu. Meluruskan akidahnya yang rusak. Agar dia tidak celaka. Agar dia tidak hina. Agar dia terlindung dari neraka. Bahwa rezeki itu ditangan Alloh. Bahwa rezeki itu terhambat karena beberapa alasan. Begini dan begitu. Namun, semua itu hanyalah teori Alif saja. Memang alif merasakan betapa tersiksanya menjadi orang susah. Karena itulah dia sangat yakin untuk berbincang dengan teman agnostiknya. Atau mungkin karena cobaan finansialnya lebih berat dari yang Alif hadapi? Mungkin karena itu dia menjadi agnostik.

Apapun itu, kini Alif mungkin mengalami apa yang mungkin terjadi pada teman agnostiknya itu. Begitu berat cobaan finansial yang dialami. Begitu sempit terasa hidup ini. Begitu terasa betapa Tuhan tidak adil. Betapa banyak do’a yang diucapkan dalam hati. Sesudah sholat. Secara khusuk. Namun apa yang didapat? Tidak ada. Tidak ada do’a dikabulkan kepada Alif. Hidupnya semakin sempit. Makin malu dia pada keluarganya. Kini hidupnya hanya berkisar pada makan, tidur, beribadah, berulang lagi tiap hari dan tiap hari berulang lagi. Meminjam uang? Pada siapa? Pada teman? Teman yang mana lagi? Mereka semua masih sebaya dengannya. Rata-rata masih merengek menunggu uang dari orang tua. Hanya sedikit saja yang sudah bekerja. Tapi teman yang sudah bekerja yang mana lagi yang bakal Alif minta bantuan pinjamannya? Sebagian Alif meminjam uang kepada meraka sebelumnya. Meminta kepada keluarga? No Way!!! Alif pantang meminta lagi pada mereka. Mencari pekerjaan. Bagaimana? Untuk ongkos saja tidak ada. Begitulah pikiran-pikiran yang ada pada Alif sekarang ini. Kini dia diambang keputus-asaan. Nyaris mengalami apa yang temannya alami. Tapi alhamdulillah. Dia masih sadar. Masih sadar akan dirinya. Kedudukannya didunia. Keadaan dunia. Kiat apa yang harus dilakukan saat seperti ini terjadi dalam hidup. Alhamdulillah.

Alif adalah orang yang suka membaca. Salah satu bacaannya adalah bacaan tentang agama. Salah satu tokoh idolanya adalah AA GYM. Ingin sekali Alif memeluk tokoh tersebut. Siraman rohaninya senantiasa menyejukan kalbu. Tapi sudah sunatullah. Mungkin dan hampir bisa dipastikan “pasti”, keberadaan ulama ini makin hari makin menggerahkan sosok-sosok yang kontra terhadapnya. Yach setan memang ada dimana-mana. Termasuk setan berjenis manusia. Yang bermulut manis berhati busuk. Itulah nasib ulama yang zuhud. Kebanyakan nasib mereka, kalo tidak dipenjara karena fitnah–seperti di palestina, afganistan, mesir–, pastilah difitnah. Mereka menunggu kesempatan untuk menyerang. Bagaikan serigala licik menunggu mangsa lalai. Isu poligami merupakan isu yang tak populer di masyarakat modern sekarang. Padahal itu salah satu tatanan hidup umat manusia sejak dulu, lalu agama Islam datang menertibkannya, membolehkan dan mengaturnya. Saat ulama itu memutuskan untuk berpoligami, maka segala macam fitnah, propaganda, intimidasi, pemblokiran, penolakan acara dan lain-lain pun dilakukan para serigala itu. Serigala itupun sukses. Banyak orang yang meninggalkannya. Bahkan orang-orang Islam sekalipun terkesan jijik dengan beliau. Sungguh malang nian nasib mu wahai Aa. Kami yang mencintaimu pun ikut menjadi malang. Kami kian jarang mendapatkan siraman sejuk nasihat-nasihatmu. Itulah sebagian nasib para ulama-ulama zuhud yang ada.

Saat yang kritis ini, Alhamdulillah Alif diberi petunjuk oleh Alloh sang Maha Penyayang. Alif menemukan buku yang berjudul “Kedasyatan Doa” karya sang tercinta Abdullah Gymnastiar.

Alif berkata dalam hati, “aku sudah sering berdoa tapi jarang yang dikabulkan, adakah nasihat tentang doa dari Aa untukku yang belum kuketahui?” betapa sombongnya alif.

Alif sebenarnya sudah malas memikirkan tentang doa. Tapi buku ini membahas tentang doa. Ditulis oleh tokoh yang dia cinta. Bisa jadi Alloh pun sangat mencintai Aa.

Buku itupun ia raih dan baca. Bab pertama pun ia baca. “Hakikat Doa”. Itulah judul dari Bab I buku tersebut. Alif tersentak, tiba-tiba air matanya terasa mengalir menuju pipi. Sebuah riwayat yang diceritakan oleh Ibn Husain. Isinya tentang firman Alloh SWT yang berbunyi:

 

Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan. Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, lalu Kuputuskan hubungan-Ku dengannya.

Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan, padahal susungguhnya kesulitan itu berada ditangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkan-nya? Mengapa ia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain padahal pintu-pintu itu tertutup? Padahal, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapapun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku.

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan?

Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara Aku dengan angan-angan dan harapan seluruh mahluk-Ku. Akan tetapi, mengapa mereka malah bersandar kepada selain Aku? Aku telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-Ku, tetapi mengapa mereka tidak puas dengan perlindungan-Ku.

Dan Akupun telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-Ku, lalu Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada firman-firman-Ku. Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku? Akan tetapi, mengapa Aku melihat ia dengan segala angan-angan dan harapannya itu, selalu berpaling dari-Ku? Mengapakah ia sampai tertipu oleh selain Aku?

Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus ia minta. Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak lagi memintanya kepada-Ku untuk segera mengembalikannya, tetapi malah meminta pertolongan kepada selain Aku?

Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika diminta tidak Aku berikan? Apakah Aku ini bakhil, sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku? Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?

Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya daripada-Ku?

Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, ‘Mintalah kepada-Ku!’ Akupun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikiran apa yang terpikiri pada semuanya.

Dan semua yang kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu. Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya?

Sungguh alangkah celakanya orang yang terputus dari rahmat-Ku. Alangkah kecewanya orang yang berlaku maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku. Dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang haram seraya tiada malu kepada-Ku.”

 

Begitu mengena firman Alloh tersebut kedalam lubuk hati alif.

Duhai Alloh-ku, maafkan pikiran-pikiran buruk yang terpatri dalam hatiku selama ini. Hamba begitu malu membacanya. Engkau senantiasa memberi tanpa diminta. Kesehatanku. Udara ini. Ampunan ini. Kelancaran ini. Nasi putih yang nikmat ini. Iman Islam ini. Keluarga ini. Orang tua ini. Teman-teman dan para sahabat. Mata ini. Telinga ini. Rasa ini. Hati ini. Akal ini. Begitu banyak ya Alloh-ku. Begitu banyak yang hamba tak minta tapi engkau senantiasa beri. Yaa Alloh yaa Rohiim. Ampunilah hambamu ini. Ampunilah hambamu ini ya Alloh Tuhanku. Tuhan semesta alam. Hanya satu Tuhanku. Alloh Swt. Engkau-lah Tuhanku ya Alloh. Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakan. Hanya engkau yaa Alloh. Ampunilah dosaku.”

Begitulah hati seorang alif begitu membaca buku itu. Buku yang berisi firman Alloh tersebut. Begitu dalam. Begitu mengena. Hingga begitu malu Alif membacanya. Ia pun melanjutkan membaca buku tersebut. Sampai pada apa yang selama ini dia sanksikan. “Hakikat Do’a.”

Hakikat do’a menurut buku itu adalah “penuntun kita untuk mengubah diri”. Alif kaget membacanya. Ternyata selama ini dia telah salah sangka terhadap apa yang dia yakini. Doa adalah penuntun kita. Bukan pengabul keinginan kita dari Alloh. Lebih lanjut buku itu mengumpamakan do’a, bahwa do’a adalah seperti pupuk. Pupuk akan membuat bibit tumbuh sedemikian pesat, berbuah banyak, dengan bunga dan daun yang lebat. Itulah masalahnya. Selama ini Alif hanya berdo’a saja. Tidak berusaha. Lantas apa yang akan tumbuh bila kita hanya menebar pupuk??? Sejak saat itu terbukalah pikiran Alif. Alhamdulillah yaa Rohiim. Bahwa yang salah dari dirinya adalah tidak adanya perbaikan diri. Dia kurang professional dalam mencari rizki. Sedang diluar sana orang berlomba-lomba mengasah kemampuan. Menjadi yang terbaik.

Buku itupun mengutip bait salah seorang tokoh besar Islam. Ibn Ath-Tha’illah. Bait-bait katanya seolah menyindirnya. Memaksanya untuk insyaf. Kembali kepada jalan-Nya yang lurus. Beliau berkata dalam kitabnya yang terkenal, Al-Hikam:

 

Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasaanmu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Alloh, tapi sibuknya meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta dan berakibat kita mengubah diri, maka Alloh akan memberi apa yang kita minta. Karena sebetulnya doa itu adalah pengiring agar kita bisa mengubah diri kita. Jika kita tidak pernah mau mengubah diri kita menjadi lebih baik maka tentu ada yang salah dengan permintaan kita.”

 

Benar-benar Alif merasa malu semalu-malunya terhadap apa yang dia baca ini. Begitu mengena. Betapa manusia begitu bodohnya. Meminta dan terus meminta tanpa ada yang dia perbaiki. Tanpa ada yang dia usahakannya. Saat diberi, dia lupa. Saat diambil apa yang menjadi “titipan-Nya”, lalu dia berkeluh kesah. Saat uang tak ada, dia bagaikan orang yang sengsara lahir batin. Dia begitu berkeluh kesah meratapi dalam hati tentang ketidak-adilan Alloh terhadapnya. Dia tidak sadar akan apa yang dia punya. Kesehatan yang sangat mahal harganya itu dia lupakan. Dia ganti dengan cemooh kepada Tuhan. Lantas apa yang dilakukan Alloh? Alloh senantiasa memberi terus kesehatan itu tanpa diminta.

Alhamdulillah, sebuah buku yang dibahas pada buku Kedasyatan Doa karya sang tercinta Aa Gym, yaitu Al-Hikam, Alloh mempertemukannya dengan sang Alif. Alif pun membacanya. Didalamnya Alif benar-benar dibuat malu lagi. Didalamnya tertulis pesan, layaknya teguran kepada Alif. Sebuah bait yang menggetarkan orang-orang bodoh yang meratapi dirinya karena kesusahan dunia. Sebuah bait yang terkandung didalam kitab sang tersohor Ibn Atha’illah, yang berbunyi:

 

Sungguh bodoh dan dungu bila engkau mencemaskan hal yang kecil dan melupakan sesuatu yang besar. Yang mestinya kau cemaskan adalah akankah engkau mati dalam keadaan muslim atau kafir? Akankah engkau bahagia atau celaka? Risaukanlah neraka yang kekal abadi itu. Risaukanlah apakah pada hari kiamat engkau akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri. Inilah yang seharusnya kau risaukan. Jangan merisaukan masalah sesuap nasi yang hendak kau makan atau seteguk minuman yang akan kau minum. Mungkinkah sang Majikan yang menjadikanmu sebagai pelayan takkan memberimu makan? Mungkinkah engkau yang sedang ada dalam tempat jamuan disia-siakan?

 

Lalu bait yang lain:

 

Orang yang risau dengan urusan dunia dan lalai terhadap urusan akhirat, seperti orang yang didatangi binatang buas yang siap menerkam. Tapi, ia malah sibuk mengusir lalat dari wajahnya daripada berlindung dari terkaman binatang buas tadi. Tentu saja orang tersebut sangat dungu dan tak punya akal. Seandainya berakal, pastilah ia sibuk berlindung dari serangan singa ketimbang memikirkan lalat kecil yang tidak ada artinya.”

 

Sungguh jiwa ini mengiyakan semua apa yang beliau katakan pada kitab Al-Hikamnya. Betapa bodohnya diri Alif. Sampai-sampai mengotori hatinya dengan mencemooh Tuhan yang Maha Suci didalam hatinya.

Yaa Alloh-ku, ampunilah sekian banyak dosaku ini. Janganlah engkau menjauhkanku pada jalan-Mu yang lurus. Janganlah Engkau bosan mengampuni dosa-dosaku Yaa Rohiim. Celakalah hamba bila Engkau membiarkanku pada ketidak-tahuanku. Celakalah aku bila Engkau tidak mengampuni-Ku” berbagai permohonan ampun dalam hati Alif diucapkannya. Dia benar-benar takut akan siksa-Nya. Dia benar-benar telah bersalah.

Berbagai nasihat dilontarkan Ibn Ath-Tah’illah kepadanya. Berbagai teguran Alloh, terasa sangat mendalam pada tulisan-tulisannya. Berbagai pertanyaan hati Alif kian banyak yang terjawabkannya. Sungguh betapa Ibn Atha’illah seperti mengerti benar apa yang dialami oleh Alif. Mungkin Ibn Atha’illah sudah muak dengan rengekan, tangisan, dan keluhan para manusia di zamannya, yang tidak menggunakan akalnya dalam menghadapi kehidupan. Oleh karena itulah, lewat pengetahuan yang telah Alloh berikan kepadanya, beliau menulis kitab tersebut untuk dibaca oleh manusia. Dan dia berhasil melakukannya kepada Alif. Kini Alif tersadar dari nafsunya.

Memang kita harus mengenal diri kita. Terutama nafsu kita. Jadikanlah dia sebagai anjing liar yang kita karantina, kita beri makan dan kita bina dengan berpuasa dan ilmu, sehingga menjadi anjing yang berguna bagi kita. Membantu kita sepenuh jiwa layaknya anjing yang setia. Bukan anjing liar yang menjerumuskan pada lembah dosa, kesia-siaan dan kehinaan. Alifpun akhirnya menyadari kesalahannya, dia pun bertobat dan mendapat satu lagi ilmu kehidupan dari universitas kehidupan.

Gejolak Hati

Betapa banyak kata indah menyentuh hati,
Betapa banyak pula kata kotor berlalu seperti hal yang biasa…
Sekarang tobat besok maksiat…
Apa hati ini terlalu jenuh dengan itu semua…
Apa hati ini telah mati…
Banyak kata penggetar jiwa penyiram hati…
Namun hanya angin lalu saat kian terkikis waktu…

Banyak pula para syubhat teman dan musuh bernyanyi dengan kebodohannya…
Apa benar mereka bodoh?
Atau memang tidak perduli…
Yang jelas semua ini membuat ku bimbang dan ragu…
Apa yang sebenarnya yang harus ku lakukan…
Apa arti hidup ini?
Sebuah gejolak jiwa yang belum mendapat jawab dari sang pencari hidup

Apa hati ini tertutup, atau ku memang tak mengerti

Bagaimana membukanya, bagaimana pula untuk mengerti…
Sedang air jernih belum bisa masuk akar pemilik jiwa…

Kemarin-kemarin aku
menghadiri acara bedah buku di masjid. Judulnya Bahaya…!!!
Indonesia menuju kehancuran
. Disana ada seorang moderator,
penulis buku, dan beberapa tokoh islam.

Saat ku masuk, mereka
membicarakan hukum dalam islam coy. Mereka membahas tentang
hukuman-hukuman yang diterima di penjara konvensional. Dan
hukum-hukum yang ditawarkan islam. Salah satu tokoh disana berbicara
tentang dana yang harus disediakan untuk seorang penghuni penjara.
Kira-kira beliau bicara seperti ini: “coba hadirin pikirkan, para
penghuni penjara itukan juga butuh makan. Kita coba hitung. Setiap
kali makan kira Rp. 15.000. Sehari tiga kali makan. Berarti dikali
tiga. Dikali juga sebulan. Dikali juga setahun. Hasilnya bisa
dibayangkan. Itu baru untuk seorang saja. Bagaimana bila dikalikan
dengan penghuni penjara yang jumlahnya banyak. Itupun baru masalah
makan saja. Belum pakaian. Kesehatan. Dan sebagainya. Memang dari
mana dana untuk makan penjara? Dari pajak masyarakat. Dalam islam
dikenal hukuman mati. Orang-orang yang kontra seperti orang-orang
diluar islam,  ataupun orang-orang yang KTP nya islam seringkali
menilai hukuman tersebut tidak manusiawi. Tetapi bila kita pikirkan
dengan apa yang tadi disebutkan. Maka akan banyak sekali lah dana
yang bisa kita simpan untuk hal yang sebenernya lebih mendesak dan
lebih berguna. Misal soal pendidikan. Mengurusi gelandangan, anak
terlantar, pengemis. Membangun modal untuk usaha-usaha kecil dan
menengah. Misal hukuman mati di adakan. Pasti akan lebih menghemat
pengeluaran negara. Memang pastilah ada saatnya berkabung bagi
keluarga yang ditinggalkan. Tapi akibat makro nya yang utama pastilah
membawa lebih kebaikan. Jika hukum islam tersebut diberlakukan.
Masyarakat akan merasa tentram. Para pelaku kejahatan pun pasti akan
berpikir dua kali atau malah seribu kali untuk bertindak kejahatan.
Belum lagi dana untuk para penghuni penjara dapat digunakan untuk
usaha-usaha pembangunan masyarakat. Bila hal itu terjadi sangat masuk
akal angka kejahatan bisa diminimalkan. Karena tindak kejahatan
berjalan seiring dengan kemelaratan, kebodohan, ketidak adilan. Maka
dari itu bukan tidak mungkin keamanan kesejahteraan dan kemajuan akan
segera tegak dengan sendirinya. – Aku setuju dengan pendapat orang
itu. Aku mulai berfikir islam itu bersifat makro. Menyeluruh. Sesuatu
yang dianggap tidak manusiawi ternyata berimbas pada kebaikan yang
begitu besar. Manusia berfikir sedang ALLAH SWT. yang menjadikan.
Contoh kecilnya ya itu tadi. Tentang hukuman mati dibanding hukuman
penjara.

Ada juga masalah tentang
pacaran. Telah begitu lumrahnya “kata pacaran” ada dipikiran
kita. Padahal agama sudah melarangnya. Ah aku kan ngga pake nafsu.
Kita berdua dekat. Apa itu salah. Aku ngga berniat jahat sama dia.
Dia pun merasa nyaman denganku. Kita sama-sama saling menyemangati
hidup. Kita saling care. Kita saling tolong. Kita suka sama suka.
Bagiamana bisa saling saling mencintai sedang kan mendekatinya saja
tidak boleh. Bagiamana mungkin kita menikah jikalau kita tidak kenal
sama sekali sama calon kita. – Yach kira-kira seperti itulah
jawaban atas pertanyaan mengapa kalian pacaran. Mereke itu kaya si
iqbal aja. Cek cek cek. Dunia semakin kacau kapten.

Dilihat dari ke”makro”an
islam tentang pergaulan dalam kehidupan, maka sebenarnya masuk akal
wahai sahabat bahwa pacaran itu tidak ada dalam ajaran islam. Ngaku
aja dech. Ngapain ajah sich kalo kita sedang pacaran. Pegangan
tangankah? Pelukankah ? atau apa lagi ? Lebih jauh lagi ? begitu kan.
Begitu direndahkannya seorang wanita saat pacaran. Hanya karena
buaian nyanyian kasih sayang. Sungguh malangnya jiwa-jiwa tersebut
yang ditawan nafsu. Begitu malangnya jiwa mereka yang tak tersiram
dengan ilmu. – Mungkin nich ya coy, kalo ane bukan ngobrol sama
dirimu melainkan dengan JIL. Mungkin si JIL itu nyeloteh “kebenaran
itu hanya milik tuhan.” Mungkin dia pun nambahin: “Derajat mereka
hanya sampai pada pencarian kriteria “benar dan salah” dalam
menentukan ajaran agama, tidak sampai pada derajat mengetahui “iman
dan kafir”. Wilayah “benar dan salah” adalah lahan manusia yang
menjadi bidang garapan “ijtihad”, yakni usaha manusiawi yang
sungguh-sungguh untuk memahami. Dalam hal itu pun, hakikat
kebenarannya masih sampai pada tahap “kebenaran manusiawi”. Bukan
“kebenaran ilahi”.” – Bagus ya kira-kira kata-katanya bos.
Begitu indah dan terpelajar. Tapi sangat rancu. ALLAH SWT. telah
menurunkan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman untuk kita. Tapi
kok malah diperdebatkan lagi sich. Kembali kemasalah pacaran tadi.
Begitu longgarnya pergaulan antar berbeda jenis jaman sekarang.
Sedangkan islam begitu menjaga kehormatan seorang perempuan. Tapi
malah perempuan sekarang menganggap larangan tersebut sebagai bentuk
pengekangan terhadap mereka. Wleh wleh… ini teh yang lebih tau
manusia apa ALLAH. Apakah tidak salah kalo ane bilang dunia ini sudah
kacau? Cek cek cek.

Cinta… cinta… memang
begitu dasyat terasa. Apalagi bagi anak muda. Yang sudah
terkontaminasi zaman. Zaman dimana budaya-budaya luhur islam telah
luntur. Zaman dimana budaya-budaya timur sudah kian ditinggalkan.
Zaman dimana ke sakralan agama bisa digugat. Zaman dimana keasikan
lebih asik dari pada keagamaan. Mau tahukah kau tentang apa yang
telah kubaca beberapa hari ini tentang zaman yang ada sekarang ini ?
mengapa pacaran begitu lumrah? Mengapa lahir aliran-aliran sesat yang
begitu banyak? Mengapa indonesia yang kaya begitu hina dimata
negara-negara lain. Sampai-sampai dulu wasit indonesia ditangkap dan
dipukuli sampai cedera berat cuman gara-gara dikira imigran tak sah.
Pihak pemerintah mereka tidak bersedia untuk meminta maaf. Hanya rasa
penyesalan belaka. Tapi apa yang terjadi kalau warga amerika
ditangkap. Maka presidennyalah yang akan segera membelanya. Para
wanita indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai TKW, seringkali
tidak mendapatkan perlakuan tidak senonoh dinegeri tempat kerja
mereka. Sebut saja Mesir, Arab Saudi, Singapura, Malaysia. Mereka
diperkosa, di siksa. Tapi tidak ada yang bisa membela mereka. KBRI
masing-masing negara tujuan mereka tidak kuasa mendiplomasi
pihak-pihak pemerintah negara sana. Diplomasi indonesia sangat lah
lemah disana. Begitu rendahnya kah kita dimata negeri-negeri luar.
Padahal indonesia begitu kaya. Ironis memang. Malaysia, Mesir, Arab
Saudi. Mereka itu negeri muslim. Sama-sama saudara kita. Tapi kok
perlakuan mereka bukan seperti saudara. Ada apa ini? Maukah kau tahuu
jawabnnya. Benar-benar asik berbicara denganmu sahabatku yang bisu.
Kau tidak menyela sedikitpun obrolanku ini. Mungkin bila aku
berbicara dengan teman sesama manusia ku. Pastilah mereka sudah
mengantuk dibuatnya. Atau mungkin mereka gerah. Sudah waktunya mereka
shopping. Sudah saatnya mereka mengurusi band mereka. Sudah saatnya
mereka memikirkan gaya mereka yang mereka miripkan dengan idola-idola
mereka, rockstar-rockstar mereka, idol-idol mereka,  seleb-seleb
pujaan mereka. Dari pada mengurusi zaman yang asik pikir mereka ini.
Agama islam cukuplah para orang yang mengerti sajalah. Biarkan saya
menjadi penonton saja yang meramaikan. Mungkin itu jawaban mereka. Ah
sudahlah sahabatku. Aku kan sekarang bicara denganmu. Kau diam saja
dari tadi. Kuanggap kau setuju untuk membiarkanku mengobrol lagi.

To be continiued…

Older Posts »